XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Penyesuaian UKT: Upaya UNY Guna Meringankan Beban Biaya Kuliah Mahasiswa

Ilustrasi Biaya Kuliah Tinggi/Farras Pradana

Biaya kuliah atau Uang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan biaya pokok yang harus dibayarkan setiap mahasiswa di awal periode semester. Penetapan besaran uang biasanya dilakukan selepas pengisian survei oleh mahasiswa yang telah disiapkan oleh pihak kampus, tak terkecuali di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). 

Pembayaran UKT di UNY didasarkan pada Surat Edaran (SE) Nomor 21/SE/2021. Surat tersebut menjelaskan batas waktu pembayaran biaya kuliah dan penyesuaian UKT. Salah satu kebijakan yang tertuang kemudian diperjelas dengan keluarnya Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 1.23/UN34/VI 2021. 

Skema penyesuaian UKT semester lalu yang merujuk pada Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 1.4/UN34/1/2021 dan SK penyesuaian UKT tidak mengalami perubahan signifikan dengan semester sekarang. Pada SK semester sebelumnya, tidak tertulis sifat dari penyesuaian UKT yang ada. Alhasil sifatnya baru akan ditentukan saat melihat persyaratan yang ada. Sedangkan pada semester ini, sudah tampak adanya kejelasan prosedur mengenai penyesuaian UKT yang bersifat permanen maupun temporer.

Bila persyaratan yang dibawa mahasiswa adalah orang tua atau penanggung jawab wafat, maka dapat melakukan penyesuaian permanen. Sebaliknya, bila persyaratan yang dibawa orang tua atau penanggung jawab mengalami penurunan penghasilan sampai bangkrut akibat pandemi, mahasiswa itu akan memperoleh penyesuaian secara sementara.

Selain hal itu, untuk keterangan atau dokumen pendukung dan model penyesuaian biaya UKT, kedua SK sama. Apabila penyesuaian disetujui oleh Tim Verifikator, maka golongan UKT hanya akan diturunkan satu tingkat. Hal itu berlaku untuk penyesuaian UKT yang sifatnya sementara dan permanen.

Skema penyesuain UKT itu, diafirmasi dalam keterangan tertulis berjudul Informasi dan Kebijakan Penyesuaian UKT/SPP Era Pandemi Covid-19 (New Normal) Periode Sem Gasal Tahun 2021/2022. Sebuah keterangan hasil audiensi mahasiswa dengan pihak rektorat pada 22 Juni 2021, sehari sebelum SK pembayaran UKT ditandatangani.

Pandemi Covid-19 yang turut serta melanda Indonesia telah menjadikan jatuhnya perekonomian nasional. Akibatnya, krisis ekonomi di Indonesia menjadi tak terelakkan. Penghasilan orang tua/wali mahasiswa yang masih dominan menjadi tumpuan mahasiswa untuk biaya kuliah pun terkena getahnya. Sehingga, banyak mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang kesulitan untuk melakukan pembayaran UKT. Lebih lagi, kegiatan perkuliahan di UNY telah menampakkan hilalnya.

***

Lupi (bukan nama sebenarnya), salah satu mahasiswa UNY, baru saja menuntaskan Ujian Akhir Semester (UAS) secara daring pada akhir bulan Juni. Rampungnya tes tersebut menjadi penanda bagi Lupi untuk bersiap menatap semester lima. Namun, alih-alih mengkhawatirkan pembelajaran yang akan ia hadapi, hal pertama yang ada dibenaknya justru pembayaran biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya kuliah Semester Pendek (SP) yang “diwajibkan” program studinya.

Lupi sebetulnya masih punya tenggat waktu yang cukup lama untuk membayar UKT. Akan tetapi, ia harus segera bergerak cepat guna mengurus berkas-berkas guna penyesuaian UKT. Hal itu mesti ia lakukan demi mendapat keringanan biaya kuliah. Sebabnya, kondisi finansial Lupi mengalami carut marut akibat pandemi Covid-19.

Sebetulnya, pada semester sebelumnya, Lupi juga telah melakukan hal yang sama. Skema penyesuaian tersebut membawa golongan UKT yang diperolehnya menjadi turun satu golongan. Pembayaran UKT-nya mendapatkan diskon. Semula, ia berkewajiban untuk membayar biaya kuliah sejumlah Rp 3.145.000, lalu turun menjadi Rp 2.400.000. Perlu diketahui, Lupi berasal dari jalur Seleksi Mandiri (SM) saat masuk ke UNY sehingga mendapatkan UKT golongan IV.

Pada semester genap 2020/2021 lalu, Lupi masih sanggup membayar biaya kuliah yang telah disesuaikan dengan bantuan tabungan yang dimiliki ayahnya. Tabungan yang menopang kebutuhan keluarga, sejak sang ayah dirumahkan. Selain dari tabungan, ia juga menggenapi biaya UKT semester dengan gaji dari bekerja sebagai admin media sosial. Sebuah pekerjaan yang ia lakoni sejak Juli 2020, dan masih bertahan hingga sekarang. Gaji yang ia terima setiap bulannya dari pekerjaan itu, kurang lebih sebesar Rp. 700.000.

Kini, kondisinya sudah jauh berubah dari setengah tahun lalu. Tabungan sang ayah semakin menipis lantaran terus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara sang ayah, hampir tidak bekerja selama setahun dan baru mendapatkan pekerjaan pada bulan Juni 2021. Ayahnya bekerja sebagai sopir dengan gaji kurang lebih Rp 1.000.000 setiap bulannya. Jumlah yang kemudian diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Karena keadaan keluarganya itu, kata Lupi, “Aku biayai kuliahku sendiri. Sampai tiap hari aku kerja ke sana kemari sambil kuliah. Kadang, kuliah sampai gak kudengarkan. Yang penting, aku kerja dapat uang buat bayar UKT. “

Maka menjadi wajar, bila Lupi berharap penyesuaian UKT semester ini dapat sesuai dengan kondisinya. Mahasiswa berusia 21 tahun itu mengatakan, “Kalau bisa turun paling enggak setengah, (sisanya – red) aku masih bisa cari.”

Kendati berharap mendapat potongan hingga setengah dari nominal UKT, Lupi tidak serta merta menjadi yakin. Sebaliknya, ia merasa takut kalau harapannya itu tidak akan terwujud. Nominal UKT-nya hanya turun satu golongan saja seperti yang terjadi pada semester lalu. 

Melihat kondisi terkini, model penyesuaian UKT hanya menurunkan satu tingkat golongan UKT, seperti yang tertera dalam SK, dan itu jauh dari harapan Lupi. Tetapi, asa itu belum benar-benar padam. Ismail Fajar Isakhofi, Menteri Kesejahteraan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mengatakan masih ada kemungkinan.

“Kemungkinan bisa. Tapi sistemnya case by case. Dengan pertimbangan langsung dari Tim Verifikator,” ujar mahasiswa yang pernah menjadi bagian Tim Penyesuaian UKT pada pembayaran semester sebelumnya, saat dihubungi via WhatsApp pada 2 Juli 2021.

Pernyataan itu selaras dengan penuturan Wakil Rektor II (WR II) Bidang Umum dan Keuangan, Edi Purwanta. Kala dihubungi via WhatsApp pada 2 Juli 2021, ia mengatakan, “Kalau pailit betul, ya diakomodasi, tetapi harus disurvei dulu.”

 

Tags: Biaya kuliah, UKT, UNY

* Tulisan ini diolah ulang untuk keperluan penugasan dalam rangka Workshop Optimalisasi SEO dan Maintenance Website LPM yang diselenggarakan oleh PPMI DK Jogja”.

Nama anggota kelompok (LPM Philosofis):

Nadia Nur Azizah

Irfan Arfianto

Yoga Hanindyatama


Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar