[WAWANCARA] Pipin Jamson Menjawab Internasional Women’s Day: Dari Feminazi Hingga SJW

author photo Rabu, Maret 18, 2020
Ulya Niami (33) turut meramaikan Aksi International Women's Day Yogyakarta  (8/3)
Ulya Niami Efrina Jamson (33) atau acap disapa Pipin Jamson,  berprofesi sebagai pengajar dalam Departemen Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (DPP Fisipol UGM). Ia dikenal sebagai dosen muda yang cukup aktif dalam perjuangan pengesahan RUU PKS. Wartawan Philosofis berkesempatan mewawancarai Pipin selepas aksi International Women Day Yogyakarta, Minggu (8/3). Demikianlah dalam wawancara berdurasi 30 menit ini, ia membagikan pandangannya mengenai aksi IWD Yogyakarta dan persoalan yang berkaitan dengan gerakan feminis. Sesekali diwarnai dengan  pembawaan jenaka yang khas. Tak jarang pula, hadir dengan emosi yang meluap-luap. 

Apa arti penting  mengikuti Internasional Women Day setiap tahun?  
Demi membangun gerakan perempuan, karena pada sejarah masa Orde Baru gerakan perempuan dilarang dan ada gap pemahaman sejarah untuk diketahui lintas generasi. Lalu selain aksi ada diskusi untuk update mengenai sejarah gerakan perempuan yang menjadi latar belakang IWD pada 160 tahun yang lalu, (dimana) pekerja perempuan (juga) turun ke jalan untuk menuntut upah yang layak.  

Point spirit-nya bahwa perjuangan ini adalah perjuangan seumur hidup, jadi harus sampai menang, bila tidak menang di generasi kita, pasti akan ada generasi selanjutnya yang meneruskan. Makanya, saat diskusi-diskusi (kita turut) melibatkan gerakan perempuan tahun 90-an di era reformasi. Penting untuk memahami sejarah walaupun sekarang yang menjadi Korlap (Kordinator Lapangan), Kordum (Kordinator Umum) adalah kaum muda. Kita yang sudah bukan mahasiswa lagi harus datang dan mendukung, apalagi bila setuju dengan tuntutan-tuntutan ini.  

Mengapa dalam Aksi IWD tahun ini terdapat penekanan  untuk menangkan RUU PKS? 
Karena sudah lebih dari lima tahun dan RUU PKS ini belum disahkan. Pengesahan RUU PKS ini penting untuk menandai perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, karena masih banyak terjadi victim blaming. Bila kasusnya masuk ranah konstitusional dan pengadilan biasanya akan mentok karena kurangnya bukti. Kalo sekarang cuma bisa dijerat menggunakan UU ITE, tapi dengan konteks pelecehan seksual cyber.  Sedangkan pelecehan seksual yang langsung tidak ada jaminan sama sekali.  

Bagaimana tanggapan ibu terkait dengan paradigma masyarakat yang menilai aksi atau perayaan ini mendukung LGBT (Lesbian, GayBisexual, dan Transgender)? 
Iya gapapagak masalah karena kalo tidak di aksi, ruangnya di mana lagi? Di kampus tidak mungkin, sedangkan di tempat kerja bila ketahuan LGBT langsung dipecat. “This is the real parlemen”, parlemen jalanan. Ketika kamu memiliki unek-unek bisa disampaikan di muka publik. Aksi ini adalah ruang demokratik dan tidak masalah (jika) mau diperdebatkan. Kaum LGBT adalah orang-orang yang ditindas seumur hidupnya.  

Selama ini mereka tidak memiliki ruang, jadi bila aksi yang demokratik tidak memberi ruang (bicara), di mana lagi tempatnya? LGBT juga bagian dari warga negara ini.  Kerja di sektor formal salah, informal juga salah. Masyarakat punya pikiran konservatif dan stigmatif karena apa? Karena rezim berbicara seperti itu. Kalo rezimnya demokratik mereka tidak akan berbicara seperti itu. Bila berbicara mengenai HAM (Hak Asasi Manusia) tidak bisa setengah-setengah. HAM bukan hanya punya orang-orang hetero. HAM itu punya semua manusia, ini perlu disampaikan kepada publik. 

Mengenai pernyataan Kominfo terkait kasus Body Positivy yang menimpa Tara Basro. Nampaknya masyarakat masih lekat dengan seksisme dan patriarki. Bagaimana sudut pandang ibu sebagai akademisi? 
Ada ruang public baru bernama dunia maya. Namun, yang menjadi persoalan adalah mindset orang-orang yang menggunakan diskursus public masih seksis, masih sangat subjektifikasi, dan objektifikasi terhadap tubuh perempuan. Selama itu pula orang sangat terobsesi untuk mengatur tubuh perempuan. Ini society yang ingin selalu mengatur tubuh perempuan apapun itu bentuknya. 

Banyak ucapan seperti "kita hitam salah, putih salah, rambut lurus salah keriting apalagi, gemuk salah, kurus salah, terlalu kurus dibilang papan penggilasan gak pernah makan, baju seksi salah, hijab juga salah." Bagusnya (dalam) dunia maya ada orang-orang yang setuju dengan isu gender. Menurut Habermas, adanya public sphere yang merupakan ruang public yang didalamnya dapat terjadi perdebatan dan pertentangan. Media online dapat menjadi public sphere (yang) bisa menjadi wadah diskusi untuk siapa saja.  

Banyak orang kontra wacana dengan feminis. Terdapat tuduhan seperti Social Justice Warrior (SJW). Ada pula yang menyebut "feminazi". Ada pula akun "Indonesia Tanpa Feminis". Bagaimana pendapat ibu sebagai akademisi? 
Politik adalah sesuatu yang kontensiusadu argument, (itulah) alasan mengapa ada demokrasi. Demokrasi mengatur orang-orang agar tidak saling membunuh seperti zaman feodal. Demokrasi adalah The Value Managing Conflict yang paling dasar. Subjektifikasi orang-orang yang  takut akan feminis, karena feminis mengguncang sistem yang sudah mapan. Yaitu sistem yang menguntungkan sebagian orang saja seperti pemilik modal dan satu persen populasi yang memiliki kontrol dalam kekuasaan 
 
Feminis itu ada banyak. Seperti Feminis Radikal, (yang) dikenal dengan separatis, “laki-laki gak boleh join”. Akan tetapi, tidak bisa menyalahkan anggota feminis radikal karena dunia kejam dengan mereka. Feminis Sosialis, mereka akan mencoba questioning the system of wealthBagaimana kekuasaan ekonomi dan sumber-sumber vital hanya dikuasai oleh satu persen populasi. Feminis Liberal, memperjuangkan otoritas tubuh perempuan. Pada era Orde Baru, (terdapat) stigmanisasi terhadap gerakan perempuan (yang) sangat tinggi.  

Kalo masuk organisasi selain PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) . Maka akan dibilang sundal Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).  Jadi terdapat historical burden atau beban sejarah. Jadi feminisme akan mengancam sistem sehingga sistem tidak tinggal diam. Dengan berbagai cara, siapapun  yang diuntungkan sistem akan mengatakan “feminazi dan feminis itu galak”. Ya memang kita galak sistemnya saja kayak gini kok. Kita bukan hanya digalakin tapi juga dikejemin sama sistem, maka (wajar) kita galak 

Bagaimana pendapat Anda mengenai paradigma "yang menyerang perempuan adalah perempuan itu sendiri"? 
Karena terdapat perbedaan ideologi, jadi kalo pemikiran seolah-olah semua perempuan dan laki-laki mempunyai kepentingan yang sama, itu kan pakai logic politik identitas. Jadi seolah-olah kalo identitasmu sama (berarti) memiliki kepentingan yang sama, padahalkan engga. Kepentingan kelas itu berbeda contohnya sama-sama perempuan beda profesi.  

Mau apapun gendernya dan gender expression-nya, tetapi kepentingan kelasnya berbeda itu akan membuat hal lain. Karena ideologi juga berbeda banyak perempuan yang masih holding konservatif value. Misal ada pertanyaan "kenapa perempuan keluar malam-malam?" dan yang menanyakan itu adalah mama Anda sendiri. Karena society (kita) yang masih seksis dan masyarakatnya seksis, (bahkan) ibumu sendiri. 

Apa harapan Anda untuk gerakan feminis Yogyakarta 
Terus berdialektika, belajar dari sejarah, membaca buku, diskusi, argumentasi sehat, membangun kajian yang solid, dan menyusun strategi landasan gerakan berdasarkan teori serta sejarah yang berdasarkan prinsip-prinsip demokratik 

Reporter: Rachma Syifa Faiza Rachel
Editor: Dissara

*Tulisan ini merupakan bagian dari serangkaian program magang LPM Philosofis

This post have 0 komentar


:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post