XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Perihal Waktu, Tak Ada yang Abadi

 

Ilustrasi: Farras Pradana

“Kita hanya saling mengetahui, tidak pernah bertegur sapa, apalagi menghabiskan waktu bersama. Namun, saat kau berpulang aku merasa kehilangan.”


Dalam usia yang baru menapak 20 tahun, aku  menemukan dunia yang berbeda dari yang kubayangkan. Hari-hariku sarat akan kesibukan menuntut ilmu, mengerjakan progam kerja organisasi, mencari part-time, mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, memikirkan masa depan, dan memikirkan kapan pandemi ini akan berakhir. Cita-citaku menjadi seorang jaksa penuntut umum yang jujur, tetapi setelah melewati hari-hari yang gelap dalam proses pencarian jati diri, cita-citaku berubah. Cukup punya uang dan bernafas dengan tenang. Ya, itu kegagalan pahit yang kualami di usia muda.

Bersamaan dengan itu semua, untuk kedua kalinya aku merasakan peristiwa kematian sebagai sesuatu yang serius. Orang terdekatku meninggal dalam usia yang sangat muda, seumuranku. Dahulu kami tetangga yang berjarak satu meter dari pintu rumah masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu dan jarak yang terbentang, kami berpisah begitu saja. Dia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Aku menangis sesengukkan, tidak siap ditinggal salah satu orang yang aku kenal baik saat kecil.

Sehabis pemakaman, hidupku berubah. Aku mulai merasa waktu merupakan sesuatu yang amat berharga. Tidak bisa dihentikan, tidak bisa diulang. Semua tumpah ruah bagai air terjun, dan tak ada tempat untuk berlindung. Kemudian, aku berhenti menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak lagi memiliki nilai.

Beberapa bulan kemudian, peristiwa kematian itu kembali di sekitarku. Seseorang yang aku kenal meninggal dalam usia muda. Aku tidak pernah bertegur sapa dengan dia. Tidak juga pernah menghabiskan waktu bersama. Namun, saat dia berpulang aku merasa kehilangan.

Berhari-hari aku habiskan dengan berdiam diri didalam kamar, hanya untuk memikirkannya. Namun, saat aku keluar rumah dan melihat sekeliling, aku tertegun. Melihat bagaimana normalnya lingkungan di sekitarku. Melihat bagaimana waktu terus berjalan dan bumi terus berputar. Tidak ada yang peduli, semua kembali ke rutinitas masing-masing.

Tanpa sadar aku meneteskan air mataku.

Keadaan menjadi semakin parah. Akhir-akhir ini berita kematian terus datang menghampiriku. Silih berganti, baik terjadi pada kenalanku, maupun pada orang-orang yang belum pernah aku temui. Kesedihan menggeroti diriku, memikirkan bahwa mungkin aku merupakan salah satu dari orang yang akan berpulang dalam waktu dekat.

Rasa sesak ini membuatku menangis, mengurung diri dan berusaha menjauhi dunia tempat tinggalku. Namun, pada suatu hari aku memutuskan untuk keluar dari dunia yang menyedihkan itu.

Sore ini, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman dekat rumah. Berusaha mencari pengalihan atas duka yang bersemayam dalam diri. Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang terbentang, melihat sekeliling yang tampak normal. Seluruh manusia yang berada di sana tampak sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga tidak sempat menaruh perhatian ke orang lain.

Aku memandangi langit yang berwarna biru cerah. Dunia ini masih sama, hampir tidak ada yang berubah. Aku memutuskan untuk duduk di bangku yang berada di ujung taman. Mengabaikan total daerah sekelilingku. Hingga keberadaan seseorang menyentak lamunanku.

Seorang pria tua berdiri di depanku. Tangannya memegang tongkat yang membantunya untuk berjalan. Dengan matanya yang jernih dia menatapku. Walau tubuhnya telah dimakan usia, dia memiliki senyum yang hangat. Aku membuang pandangan ku darinya, namun dia justru duduk disebelahku.

“Hai, bolehkah saya meminta air mineral itu?”

Dia menatap air mineral yang terletak disampingku. Aku menatapnya sebentar, kemudian memberikan botol itu kepadanya.

“Terima kasih.”

Dia meminum habis air mineral di dalam botol. Kemudian, keheningan melanda kami sebelum pria tua itu memecahnya.

“Apa kau hanya sendirian?”

“Ya, seperti yang terlihat.”

Dia diam memperhatikan aku dengan matanya yang jernih, tangannya mengetuk-ngetuk tongkat, sepertinya dia sedang berpikir.

“Sepertinya kau memiliki sesuatu yang berat dalam pikiranmu.”

Aku menoleh, terkejut. Namun, segera mengatur mimik wajah. Aku menimang, haruskah aku menceritakan isi pikiranku pada seorang yang asing, atau diam saja lalu mengabaikannya. Kembali menatap wajahnya, namun yang kutemukan hanya tatapan teduh itu.

“Ya, perihal waktu, perihal kematian.”

Pria tua itu menatapku sebentar, kemudian mengarahkan pandangannya pada langit yang cerah. Ekspresinya tidak berubah, sepertinya dia tidak terkejut mendengar kata-kata kematian yang terlontar dari gadis muda sepertiku.

“Keberatan mendengar cerita?”

“Tidak.”

“Saya kehilangan istri saya beberapa tahun yang lalu. Tentu saja ini menyakitkan, saat seseorang yang berjanji menemani saya selamanya, tiba-tiba harus berpulang karena waktunya telah usai. Selepas itu, saya tinggal seorang diri. Memang ketiga anak saya mengajak untuk tinggal bersama mereka dan keluarganya. Namun, saya tidak bisa meninggalkan istana yang selama ini menampung saya beserta pendamping hidup saya.”

“Kehilangannya merupakan pukulan telak. Rasa sakit menghujani saya. Setelahnya saya menyerah, belum lagi penyakit-penyakit tua yang mengerogoti tubuh renta ini.”

Pria tua itu terdiam, menghela napas. Tatapannya menerawang jauh kedepan.

“Apakah sampai saat ini anda menyerah?”

“Tidak.”

“Huh?”

“Awalnya saya memang menyerah. Pasrah dengan keadaan, menunggu ajal menjemput. Namun, setelah menghabiskan berbulan-bulan dengan pikiran, saya memutuskan untuk tidak menyerah dan mati begitu saja. Saya tidak harus berkecil hati karena ajal akan segera menjemput. Saya harus memakai waktu dengan sebaik-baiknya.”

Aku tertegun, mendongakkan kepala untuk memandang mata jernih itu.

“Nak, kematian memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Bahkan, mungkin kematian ada didalamnya. Namun, semua keputusan berada dalam dirimu.”

Kali ini aku tersentak. Kematian yang beberapa waktu lalu begitu menganggu, begitu membuatku ketakutan dan menangis dalam keheningan malam ternyata memang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Namun, apakah aku akan terus mencemaskan hal yang pasti akan datang? Mengapa aku tidak berusaha melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, agar aku lebih siap menghadapinya. Mataku berair, namun terlalu malu untuk kembali menangis.

Kemudian dia tersenyum menatapku, “Datanglah kembali ke sini hari Minggu bila kau ada waktu.”

“Baiklah, aku pamit dahulu.”

Aku tersenyum, menatapnya lamat-lamat, tanpa tahu bahwa sebelum hari Minggu itu datang. Sang pria tua telah berpulang.


Rachma Syifa Faiza Rachel
Editor: Rohmawati


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar