XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Tawarkan Gagasan Berbeda, Nawanata ISI Gelar Pameran di Galeri R.J. Katamsi

Pengunjung sedang melihat karya yang dipamerkan (14/1/2023). Foto: Yoga Hanindyatama

Mahasiswa Jurusan Seni Murni angkatan 2019 Institut Seni Indonesia (ISI) atau Nawanata menggelar pameran seni rupa dengan konsep berbeda. Mereka mengangkat judul "Labirin, Healing, dan Ruang Kremasi". Pameran yang bertempat di Galeri R.J. Katamsi ini dibuka oleh seniman Ugo Untoro pada Sabtu, 14 Januari 2023 pukul 16.00 WIB. Selain Ugo, hadir pula Warsono, S.Sn. M.A., selaku Kepala UPT Galeri R.J. Katamsi

Gelaran ini menjadi pameran Nawanata yang ketiga. Sebelumnya, mereka sudah melaksanakan dua pameran, di mana salah satu pameran menggunakan platform Artstep. Dalam membuat pameran luring di tahun 2023 ini, Nawanata mencoba menawarkan gagasan unik yang berbeda dengan pameran-pameran lain. Hudan Seltan (22) selaku project manager pameran memberikan penjelasannya.

“Diperlukan kemasan yang berbeda agar ber-impact pada judul pameran, pengemasan, dan pengelolaan ruang. Makanya judul pameran (itu) ‘Labirin, Healing, dan Ruang Kremasi.’ Sebuah kata yang gak umum, tapi provokatif,” kata Hudan kala ditemui awak Philosofis pada 18 Januari 2023.

Menurut pandangan Hudan, pemilihan judul yang demikian memiliki arti penting. Judul menggambarkan lika-liku perjalanan seseorang selama menjalani kehidupan di dunia. Selama hidupnya, seseorang akan mendapati dirinya berada dalam posisi yang menguntungkan di satu waktu dan terkadang berada dalam posisi sebaliknya.

Gagasan berbeda dalam pameran juga terlihat dari segi artistik ruang pameran. Pada pameran ini, panitia mengolah ruang di Galeri R.J. Katamsi sedemikian rupa. Pintu masuk utama yang berada di depan ditutupi dengan susunan batu bata. Untuk melihat karya yang ditampilkan, pengunjung harus naik ke lantai 2 terlebih dulu, sebelum ke lantai 1. Pola seperti itu membuat para pengunjung seakan berada di dalam labirin. Pemandangan yang berbeda ini diakui oleh Hudan sebagai cara untuk menunjukkan kreativitas mahasiswa Seni Murni angkatan 2019. 

“Kaya nembok (pintu masuk) ini. Siapa yang kepikiran buat nembok gedung milik kampus gitu, lho. Waktu rapat, (sebenarnya) ingin menggagas itu, tapi banyak yang gak setuju,” katanya.

Walaupun di awal mendapat tentangan, konsep menutupi pintu masuk pameran dengan batu bata pada akhirnya dapat terwujud. Menurut mahasiswa yang tergabung dalam komunitas seni Titik Kumpul ini, pameran dengan konsep dari atas ke bawah menunjukkan sesuatu yang baru. Hal semacam ini merupakan sebuah penyegaran dan keliaran ide yang ditunjukkan oleh Nawanata. 

Saat disinggung tentang pameran yang mengundang seniman Ugo Untoro secara khusus, Hudan berkata bahwa Ugo memiliki pandangan kesenian yang bagus. Ugo yang pernah berkuliah di ISI dinilai mempunyai kecocokan dengan keadaan sekarang, dalam artian esensi seni itu sendiri. Hudan menambahkan,“Dia seniman yang konseptual.” 

Dalam pameran yang berlangsung selama 11 hari, terdapat beberapa karya yang ditampilkan. Menurut Hudan, ada sekitar 60-an karya, baik itu lukis, grafis, hingga patung. Setiap karya yang dipajang memiliki karakteristik sendiri. Untuk karya lukis, ada mahasiswa yang menggunakan gaya realis atau gaya lainnya. 

Salah satu karya yang dipamerkan ialah lukisan yang berjudul “Eling Mula Bukane”. Lukisan karya Primadi Priyo Laksono ini menggunakan cat akrilik pada media kanvas berukuran 130x100 cm. Mahasiswa yang sering disapa Yoyok ini mengatakan bahwa lukisannya mengambil topik tentang Dewa Ruci yang berkaitan dengan kisah Werkudara.

Karya Yoyok yang berjudul “Eling Mula Bukane” (14/1/2023). Foto: Yoga Hanindyatama

Dalam lukisan ini, terdapat gambar Werkudara sebelum dan setelah menjadi arca. Lukisan dua dimensi itu menjelaskan tentang perjalanan Werkudara yang diperintahkan oleh Begawan Durna untuk mencari Tirta Perwitasari. Air kehidupan ini sebenarnya tidak ada karena hanya rekaan dari Durna sendiri. Ia berharap Werkudara sebagai keluarga Pandawa mati dalam perjalanannya itu dan Pandawa menderita kekalahan dari Kurawa.

Namun, Werkudara tidak mati saat mencari Tirta Perwitasari. Bahkan ia bertemu dengan Dewa Ruci. Adik Yudhistira ini lalu diberi wejangan oleh Dewa Ruci tentang konsep sangkan paraning dumadi. Konsep ini berkaitan dengan perjalanan hidup setiap manusia sejak lahir hingga meninggal dan di mana ia akan kembali. 

“Saat ketemu Dewa Ruci, Werkudara diwejang (diberi petuah) tentang sangkan paraning dumadi. Manusia berasal dari mana dan akan berakhir ke mana. Jadi, di lukisan itu ada wayang kecil namanya Dewa Ruci, terus ada Werkudara utama yang (warnanya) emas,” terang Yoyok

Di belakang tokoh Werkudara utama, terdapat empat “bayangan” yang berwarna merah, hitam, kuning, dan putih. Yoyok menuturkan bahwa Werkudara itu melambangkan konsep sedulur papat lima pancer. 

Lukisan ini juga berkaitan dengan konsep aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah. Empat hal ini merupakan hawa nafsu yang ada di dalam diri. Werkudara harus merelakan egoisme yang dimilikinya untuk bertemu Dewa Ruci. Empat nafsu itu harus dikalahkan agar dapat menjadi manusia seutuhnya. 

Gambar arca di tengah itu merupakan perwujudan Werkudara yang sudah mendapatkan ilmu kesempurnaan. Sifatnya lalu berubah seperti arca yang keras dan tidak mudah goyah. Setelah itu, ia akan menjadi manusia yang lebih kuat. 

Ketika ditanya terkait alasan memilih topik ini, Yoyok mengatakan bahwa ia belum lama ini membaca Serat Dewa Ruci. Di serat itu, juga terdapat gambar hewan yang ada di laut. Ia mengaku terinspirasi dari situ. Ide utama ornamen tambahan berasal dari gambar hewan laut. Gambar hewan laut itu kemudian disesuaikan modelnya sendiri. Selain itu, Yoyok mengemukakan alasan lainnya ialah untuk memaksimalkan keotentikan gaya lukisnya.

"Yang paling mendasari aku membuat karya ini ya karena ingin berbeda. Kalau bisa menampilkan yang berbeda dari yang lain, kenapa tidak? Makanya aku akan mengambil jalan itu," tandasnya 

Yoyok mengaku sudah hafal dengan berbagai bentuk wayang sehingga dia memutuskan untuk menyalurkannya ke dalam media dua dimensi. Pria kelahiran Bantul dua puluh satu tahun lalu ini memang sudah tidak asing dengan dunia pewayangan. Sedari kecil, ia memiliki minat yang besar dalam dunia pewayangan. Dia tertarik pada tatahan dan sunggingannya setelah menonton pagelaran. Ketertarikan itulah yang kemudian membuat dia berkeinginan menjadi dalang.

Akan tetapi, keinginan menjadi dalang pupus di tengah jalan karena suatu sebab. Alhasil ia memutuskan untuk menjadi pelukis. Ia menggunakan wayang sebagai “senjata” untuk mengekspresikan "jiwa mendalangnya". Bahkan, ia mengatakan bahwa pelukis sebenarnya memiliki fungsi yang sama dengan dalang.

"Pelukis itu juga dalang, dalang dari lukisan tersebut. Terus apa bedanya? Pelukis punya kuasa atas kanvasnya," pungkasnya.


Yoga Hanindyatama
Reporter: Yoga Hanindyatama
Editor    : Zhafran Hilmy
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar