XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Mata Pencaharian Hilang Akibat Rob, Warga Dukuh Timbulsloko Tak Mampu Membayar Uang Relokasi

Ondong memancing dengan alat pancing sederhana yang terbuat dari botol dan senar (09/01/23).
Foto: Dewa Saputra

Dengan mata terbelalak, Ondong mengamati sekitar tempatnya berdiri. Sembari membawa alat pancing sederhana, berumpan tepung, ia menjebak ikan di atas gladak. Sesekali ia mengingat kembali desanya yang dulu. Ketika lahan pertanian terhampar luas, membuat perekonomian mereka jauh lebih baik dari kondisi ketika rob datang dan menggerogoriti desa serta keberlangsungan hidup mereka.

Bentang alam di Dukuh Timbulsloko, Sayung, Demak, dahulu menghampar lahan pertanian yang luas. Sawah ditanami padi guna mencukupi kebutuhan pangan mereka. Di samping-samping dan di sela-sela lahan kosong ditanami kelapa, semangka, dan beberapa komoditas lain yang menjadi tumpuan ekonomi warga.

Lambat laun, mereka merasakan dampak rob dan diperparah dengan penurunan permukaan tanah. Lahan pertanian sawah berangsur-angsur beralih menjadi tambak ikan. Perubahan tumpuan perekonomian yang awalnya mengandalkan pertanian menjadi perikanan membuat mayoritas warga kelimpungan. Sebab, memang sejak turun temurun, mengurus ikan bukan keahlian adiluhung bagi mereka.

“Warga sini (Dukuh Timbulsloko) kan bukan asli nelayan, kebanyakan justru petani, tapi memang ada yang menjadi nelayan itu benar adanya, tapi cuma beberapa kok,” ucap Ondong sembari menunggu ikan masuk dalam perangkap pancing sederhananya.

Alat pancing Ondong sangat sederhana. Kail yang umumnya sebagai alat menjerat ikan terbuat dari besi diganti dengan botol bekas yang dilubangi dan dikaitkan dengan senar. Meski sederhana, pancing Ondong mampu menangkap ikan guna kebutuhan makan keluarganya.

Ondong kembali bercerita tentang desanya dahulu, kala pohon kelapa mejadi andalan warga Dukuh Timbulsloko sebagai mata pencaharian. Kini, hanya memori pohon kelapa dan komoditas lain yang membekas dalam ingatannya. Sebab rob telah mematikan pohon perekonomian mereka.

Berangsur-angsur Ondong dan warga lain mencoba peruntungan diluar sektor pertanian. Mereka mencoba membuat tambak ikan. Alasan mencoba memulai di perikanan karena ia dan beberapa warga percaya bahwa air laut membawa mata pencaharian baru. Namun, upaya tersebut menemui kendala. Badai kerap menghantam sekat-sekat tambak dan menghancurkannya.

“Tambak sekarang udah tidak ada, semuanya kalah dihantam oleh badai (ombak dan angin). Itu juga ada rencana lagi yang dibikin oleh pemuda. Masalahnya butuh perawatan dan butuh biaya besar. Karena dihajar angin sama ombak terus nanti ga kuat bisa jebol. Berat karena musuhnya angin kencang,” seru Ondong sambil menunjuk sekat tambak yang terhenti didirikan.

Kini Ondong dan beberapa warga lain hanya dapat menggantungkan perekonomian dari kerja serabutan. Anom dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah ketika ada tawaran pekerjaan. Tawaran itu juga tidak selalu ada. Di suatu waktu ia terpaksa menganggur dan berada di rumah, ia tak mampu berbuat banyak.

“Sekarang posisinya sudah sulit. Kalau menganggur tidak ada pekerjaan, mencari ikan sudah tidak banyak, tidak bisa jadi harapan perekonomian. Ya, paling kalau dapat cuma buat lauk. Airnya (rob) doang yang banyak. Ikannya jarang,” Ondong bertutur sembari menarik ulur pancingannya.

Mengesampingkan Relokasi, Mengedepankan Sejarah Desa

Ashar mengisap rokok kretek dan duduk bersama warga lain di tempat parkir Dukuh Timbulsloko, tempat memakirkan motor di desanya. Sebab motor tidak mungkin dapat diparkirkan di rumah masing-masing. Di ruang kosong lain, anak-anak berkumpul dan bermain (10/01/23).
Foto: Dewa Saputra

Ondong cemas, air laut kian naik diluar dugaan mereka. Meski telah membuat gladak dengan meninggikan rumah panggung dan jalan yang terbuat dari papan kayu, bahkan kini air laut dapat mengungguli gladak. Rob secara perlahan menenggelamkan perekonomian, ruang hidup, dan segala hal tentang desanya.

Warga Dukuh Timbulsloko tidak dapat berbuat banyak menghadapi kondisi desanya kini. Ondong, salah satu warga juga bersaksi, ia hanya bisa menerima keadaan sembari bertahan dengan kondisi sempoyongan. Sebab, kebijakan pemerintah desa yang seharusnya memberi kejelasan justru membuat dirinya bingung.

“Pemerintah itu harus adil, tapi selain adil, karena di sini lebih membutuhkan (pembangunan), jadi di sini dulu yang seharusnya diprioritaskan. Misal kalau di desa lain membutuhkan, tapi kan di sana ibaratnya mereka masih bisa tidur. Kalau misal gak terlalu enak ya gapapa dinikmati dulu,” ujar Ondong dengan nada tegas dan wajah serius.

Kini, tak mudah menjalankan kehidupan di Dukuh Timbulsloko. Mata pencaharian ekonomi pertanian telah direnggut oleh rob, ruang hidup semakin sempit. Bahkan badai kerap menghampiri menjelang tahun baru 2023, membuat tidur dan hidup mereka tidak tenang.

Beberapa warga yang memiliki uang, lebih memilih untuk pindah dari Dukuh Timbulsloko. sedangkan yang lain, hanya bisa bertahan dan mengupayakan kehidupannya sendiri.

Melihat keadaan Dukuh Timbulsloko, Pemerintah Daerah Demak tak ambil diam, mereka sempat memberi tawaran. Warga diberi pilihan untuk bedol desa (relokasi). Namun, anggota dewan dan pejabat setempat menyebut, faktor sejarah mengalahkan opsi relokasi. Warga menolak relokasi.

“Memang tadinya ada rencana relokasi, dipindahkan tempat. Lurah buka suara kalau relokasi tidak seharusnya dilakukan. Digondeli (tertahan), karena nama kelurahan Timbulsloko diambil dari desa ini. Kalau desa ini ngga ada terus nanti kelurahan mau dinamakan desa apa?” Ondong memepertegas.

Tak mampu Menambal Biaya Tambahan Untuk Relokasi

Anak-anak bermain Lato-Lato di atas jalan gladak, tak ada ruang untuk bermain bagi mereka (10/01/23). Foto: Dewa Saputra

Kenaikan air laut di Dukuh Timbulsloko perlahan-lahan semakin mengkhawatirkan. Relokasi menjadi pilihan yang harus mereka ambil.

Menurut Ashar, seorang warga yang juga terdampak rob, rencana relokasi sudah digaungkan sebelum tahun baru 2022. Sekitar bulan November-Desember. Namun, ia dan warga lain urung melakukan relokasi.

“Rencana relokasi dilakukan oleh Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat). Rumah akan dibuatkan, kebutuhan air juga disediakan. Tetapi, tanah yang digunakan untuk mendirikan rumah mengangsur,” ucap Ashar menjelaskan.

Rencana relokasi membuat angin segar bagi Ashar dan warga lain. Namun, mereka harus mengangsur tanah tempat berdirinya bangunan relokasi. Ashar mengurungkan niat mengetahui ia harus merogoh uang pribadi mengangsur tanah.

“Saya tidak kuat kalau disuruh mengangsur tanah (tempat relokasi). Lah angsuran BPKB (Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor) milik ayah saya yang dibuat jaminan hutang saja tidak kuat menebusnya,” tegas Ashar sembari pasrah merelakan surat kepemilikan kendaraan bermotor ditahan rentenir.

Jumlah yang perlu dibayar untuk menebus BPKB ayah Ashar Rp223 ribu. Ia tak mampu membayarnya. Tawaran mengangsur relokasi tak mampu ia ambil. Ia berharap persetujuan lain untuk relokasi.

“Yang saya dan warga lain minta itu tanah dan material diberikan, meski material bangunan tidak seberapa. Kalau materialnya kurang, nanti kita bangun perlahan. Kalau mengangsur tanah, secara pribadi saya tidak kuat membayarnya,” Ashar mempertegas keinginannya jika dilakukan relokasi. 

Ia dan warga lain berharap: jika relokasi amat berat bagi mereka, hingga akhirnya tidak mampu melakukannya. Ia ingin kampungnya menjadi prioritas dalam menanggulangi kenaikan air laut. Ruang hidup amat sempit bagi mereka. Ditambah, ruang berkumpul bagi warga dan bermain bagi anak-anak tidak ada. Hal tersebut memberi keprihatinan mendalam baginya.


Dewa Saputra
Reporter: Dewa Saputra
Editor: Rachma Syifa Faiza Rachel
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar