XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Masduki Suarakan Represi Terhadap Akademisi Dalam Gejayan Memanggil Kembali

Masduki, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia menyampaikan orasi. (Foto: Dewa Saputra)

Senin, 12 Februari 2024, sekitar pukul 16.00 WIB, Massa Aksi Sejagad berkumpul di Pertigaan Gejayan. Aksi tersebut dimulai dengan longmarch dari bundaran UGM menuju pertigaan Gejayan. Massa Aksi menyampaikan tuntutan atas tindakan represi terhadap para akademisi selama masa Pemerintahan Jokowi.

Aksi dengan tajuk Sejagad (Serentak Jaringan Gugat Demokrasi) dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, jurnalis, aktivis lingkungan, LSM, hingga akademisi.

Salah satu akademisi yang berpartisipasi dalam aksi itu adalah Masduki, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, sekaligus inisiator Forum Cik Ditiro. Ia menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang berada dalam darurat demokrasi.

 “Masyarakat, pemilih, minimal di Jogja harus tau bahwa tanda kemorosotan demokrasi sudah terlihat, jelas sekali.  Masyarakat sudah harus segera bangun dan bergerak untuk memperbaiki situasi yang terjadi hari ini,” ujar Masduki.

Dosen Prodi Ilkom UII tersebut mengungkapkan adanya bentuk represi terhadap para akademisi. Terutama pada akademisi yang mengkritisi pemerintahan saat ini.

Ada banyak bentuk represi. pertama, para dosen, terutama dosen pegawai negeri sipil dengan pangkat yang masih rendah, merasa rentan posisinya, karena masa depan karirnya yang dipertaruhkan,” ucapnya di sela Massa Aksi.

Seorang Massa Aksi berorasi di samping replika Guillotine. (Foto: Dewa Saputra)

Pria tersebut menaruh prihatin atas situasi demokrasi saat ini, terutama di bawah Rezim Jokowi.

"Bentuk represi yang kedua sifatnya sistemik, di samping mengajar, para akademisi disibukkan dengan berbagai urusan administrasi. Akibatnya, mereka tak sempat menyuarakan keresahan dalam kegiatan aksi semacam ini,” imbuhnya.

Aksi Sejagad pada hari itu berakhir pukul 18.00 WIB, dengan drama teatrikal “pemenggalan” seseorang yang memakai topeng berwajahkan Jokowi sebagai penutupnya. Drama tersebut memberi gambaran bahwa Jokowi, yang diperankan salah seorang massa aksi, hendak diadili, dipenggal menggunakan replika Guillotine yang terbuat dari kayu.


Ainun Zeva

Reporter: Ainun Zeva

Editor: Dewa Saputra

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar