![]() |
| Foto: Aprilianti Azzahra |
Memperingati Hari Perempuan Internasional, IWD Jogja sukses menggelar panggung aksi bertajuk “Perempuan* Hempaskan Penindasan”, Minggu (8/3). Bertempat di Selasar Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta, aksi ini dipadati oleh ratusan massa dari berbagai elemen. Demonstrasi ini dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan berlangsung tertib hingga pukul 20.00 WIB.
Berbagai isu digaungkan dalam kampanye publik ini, mulai dari berbagai masalah perempuan, ragam gender, hingga penolakan terhadap berbagai bentuk penindasan terhadap rakyat. Peserta aksi menyampaikan tuntutan melalui orasi dan kegiatan “Panggung Rakyat” yang menampilkan berbagai pertunjukan seni.
Dalam prosesnya, panitia juga berupaya menjadikan aksi ini lebih inklusif dengan menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan pendampingan bagi peserta disabilitas yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Pada aksi ini, IWD Jogja menyampaikan 37 poin tuntutan khusus dengan enam tuntutan utama. Enam tuntutan utama yang dimaksud meliputi:
1. Bangun ruang aman dan inklusif di semua sektor
2. Wujudkan lingkungan kerja tanpa diskriminasi dan jaminan upah layak
3. Hentikan diskriminasi, represi, penjajahan, femisida, dan genosida
4. Penuhi hak kesehatan seksual dan reproduksi serta pengetahuan tentang ragam gender
5. Hentikan perampasan ruang hidup dan perusakan lingkungan
6. Hentikan program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang merampas hak pendidikan dan kesehatan
Selain orasi untuk menyampaikan tuntutan, aksi tersebut juga diisi dengan “Panggung Rakyat” yang menampilkan berbagai ekspresi seni seperti pembacaan puisi dan pertunjukan teatrikal. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta aksi untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman mereka melalui medium seni.
Sekar, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sekaligus performer teatrikal dalam aksi IWD tersebut, mengatakan bahwa pertunjukan yang dibawakannya berangkat dari pengalaman kekerasan dan pelecehan yang sering dialami perempuan.
“Perempuan sering mengalami kekerasan dan pelecehan yang sangat menyakitkan, apalagi jika pelakunya adalah partner kita sendiri. Hal-hal seperti ini harus terus disuarakan agar orang lain juga menyadari bahwa tindakan tersebut tidak tepat,” ujar seniman teatrikal tersebut.
Melalui panggung tersebut, semua pihak berharap perayaan International Women’s Day kali ini tidak hanya menjadi simbol perayaan tahunan. Namun, juga menjadi ruang solidaritas bagi perempuan dan kawan-kawan ragam gender untuk menyuarakan pengalaman serta perjuangan mereka terhadap berbagai bentuk ketidakadilan.



.png)
