![]() |
| Ilustrasi: Maheswara |
Akulah pecandu Judol (Judi Online) itu. Setidaknya begitulah masa laluku. Berawal depo kecil-kecilan. Aku mendapati diriku terjebak dalam siklus candu judi yang sangat gelap. Ini sebenarnya agak memalukan bagiku. Tapi ijinkan aku bercerita, sebab barangkali pengalaman ini akan jadi pelajaran.
“Hari ini harus dapat duit pokoknya”
“Duh hari ini kalah. Artinya besok gua harus balikin duit yang kemarin”
“Harus denger cekring-cekring, nikmat”
Setidaknya itulah yang memenuhi isi kepalaku saat bermain Judol. Harganya lebih mahal dari sekedar handphone yang tergadai. Karna Judol akan menguras mentalmu. Ia akan menyebabkan kamu berkeringat untuk alasan yang tidak seharusnya. Aku beruntung karna berhasil lepas dari gelapnya dunia judi. Namun, tak semua orang seberuntung aku. Banyak dari mereka yang hidupnya hancur secara brutal.
Tak sedikit kasus kriminal yang amat horor disebabkan Judi di Indonesia. Misalnya demi judol, seorang pria di Pandeglang, Banten, terlilit hutang di perusahaan tempat dia bekerja. Dia pun sampai tega membunuh istri dan anak bayinya, karena tertekan secara mental akibat hutang yang terus menggunung.
Menurut kesaksian rekan kerjanya, uang setoran perusahaan malah digunakan oleh pelaku untuk bermain slot. Demikianlah perusahan tempat pelaku bekerja harus menanggung hutang 11 juta, akibat ulahnya. Dari kasus ini kita dapat membaca betapa berbahayanya dampak kecanduan judol terhadap sosial.
Ironisnya, saya pernah terjerumus pada lingkaran jahanam itu. Awalnya sih hanya coba-coba, tapi tanpa saya sangka, di percobaan pertamakali bermain judol, saya langsung dapat untung yang cukup besar. Kalau tidak salah saat itu saya mendapatkan satu juta. Di umur saya yang masih belum stabil, saya tergoda dengan mudahnya mendapat uang dari permainan terkutuk itu.
Terbesit di kepala saya, “ternyata mencari uang disini lebih mudah daripada bekerja”. Bayangkan, hanya dengan bermodalkan ponsel dan uang puluhan ribu rupiah, saya bisa balik modal ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, dan dari situ jebakan judi dimulai.
Hampir setiap hari saya memainkan game tersebut. Kegembiraan itu tentu tidak bertahan lama. Uang tabungan saya perlahan habis, barang berharga saya pelan-pelan menghilang satu persatu. Handphone hingga laptop saya lenyap karena saya gadaikan. Setelah kemenangan awal, selanjutnya saya selalu mendapati kekalahan bertubi-tubi. Bodohnya, saya berharap bisa menutup kekalahan itu dengan terus berjudi.
Pengalaman pribadi ini memunculkan banyak pertanyaan reflektif di benak saya: Bagaimana bisa permainan seperti itu membuat saya dan pecandu yang lain rela menghabiskan harta benda hingga separuh nyawanya, hanya untuk mengharapkan keuntungan yang tidak pernah pasti.
Berangkat dari pertanyaan ini, mari kita melihatnya dari kacamata yang lebih teoritis. J. S. Coleman, seorang sosiolog Amerika, menyatakan bahwa manusia cenderung mengulangi pola perilaku yang memberikan keuntungan bagi dirinya. Gagasan ini ia rumuskan dalam konsep reward and punishment.
Disisi lain, permainan judol justru menerapkan sistem variabel rasio reinforcement, yaitu pemberian hadiah yang datang secara acak. Pola inilah yang tanpa disadari mengikat para pemain untuk terus berharap pada keuntungan yang tidak pasti. Gila gak sih?
Mengutip berita dari tempo.com, disebutkan bahwa judi online berpotensi menurun secara genetik. Jika ditarik dari kerangka tersebut, dapat diartikan bahwa perilaku emosional orang tua memilki pengaruh besar terhadap anak. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, bahkan diupayakan untuk diminimalkan, agar presentasi kecenderungan judi online tidak dapat menurun pada generasi mendatang.
Argumen ini semakin diperkuat oleh Kristiana Siste Kurniasanti, seorang dokter spesialis jiwa, menyatakan bahwa kecenderungan judi bisa jadi warisan yang negatif bagi keturunan. “Itu bisa menurun, dan mempunyai kontribusi terhadap seseorang untuk melakukan hal yang sama daripada yang tidak mempunyai faktor genetik.” Ujarnya.
Berangkat dari sini, judi online bukan sekedar persoalan individu, tetapi juga pola yang bisa diwariskan dari keluarga. Artinya, upaya pencegahan tidak bisa hanya menyasar pelaku, tetapi juga harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, agar pola yang sama tidak terulang di generasi berikutnya.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan fenomena yang terjadi di masyarakat, dapat disimpulkan bahwa judol bukan sekedar permainan biasa, melainkan sebuah sistem yang dirancang untuk membuat pemainnya terus terikat. Pengalaman pribadi saya menjadi bukti nyata bahwa kemenangan awal justru menjadi pintu masuk menuju kecanduan.
Keuntungan yang datang secara cepat menciptakan ilusi bahwa seseorang bisa menghasilkan uang dengan mudah dari judi. Padahal, pada akhirnya hal tersebut justru membawa kerugian yang jauh lebih besar.
Secara reflektif, saya menyadari bahwa kecanduan judol bukan semata-mata karena seseorang terlalu lemah. Melainkan adanya mekanisme seperti reward and punishment dan variabel rasio reinforcement yang membuat seseorang selalu berharap pada keuntungan yang yang tak pasti. Secara tidak sadar pola ini membuat kebiasaan yang terus berulang. Dimana korban terus mencoba walaupun sudah jelas-jelas dihantam kerugian. Inilah yang menjelaskan mengapa saya dan pecandu lain tetap bertahan dalam siklus terkutuk judol.
Dari fenomena yang terjadi kita bisa menarik kesimpulan, bahwa judol memiliki dampak yang sistemik. Tidak hanya berdampak destruktif kepada seseorang, tetapi juga keluarga dan lingkungan sosial. Demikianlah rentetan kasus kriminal yang terjadi akibat judol harusnya mengajarkan kita untuk lebih reflektif tentang fenomena ini.
Sebagai penutup saya menulis ini dan sadar betul menyembuhkan negeri dari pengaruh judol bukan perkara mudah. Judi adalah permainan yang telah bertahan ribuan tahun. Saya tidak mungkin mengubah kebiasaan ini secara ajaib. Namun, jika Anda membaca ini, kuharap Anda tidak kalah dengan bujuk rayu judi. Karna saya percaya, bahwa
Anda bisa lebih baik dari saya.
Rafi Akbar
Editor: Aprilianti Azzahra




