XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Cinta di Ujung Kuku Kapitalisme

 

Ilustrasi: Maheswara

Akhir-akhir ini, aku bangun dari tidur dengan nafas yang tersengal-sengal, dada yang sesak seolah semalam aku tidur berdesakan dengan himpitan batu kali. Menyadari fakta bahwa kita hidup dalam dunia modern yang serba berorientasi untung dan rugi. Mekanisme pasar merasuk ke mana-mana, bahkan sampai ke urusan yang sifatnya personal macam percintaan sepasang kekasih. 

Hari ini cinta tidak akan cukup jika hanya berbekal kita sebagai individu, tetapi kita diharuskan berbekal komoditi yang bisa menjadi nilai tukar dalam hubungan. Jika tidak, maka kita harus siap jika ditinggalkan kekasih suatu saat dengan cara yang paling menyakitkan, karena kita tidak punya apa-apa untuk ditawarkan, selain kesederhanaan dalam mencintai pasangan. Bisa saja kita ditinggal berselingkuh dengan kaum borjuasi, ditinggal tanpa sempat berpamitan, bahkan ditinggalkan begitu saja tanpa kesempatan untuk bertanya.

Sebagai rujukan, kita bisa lihat bagaimana kritik intervensi kapitalisme terhadap hubungan percintaan muncul seperti pada film berjudul The Materialist (2025), dimana logika pasar mempengaruhi Lucy ketika memandang pasangannya, John, sebagai individu yang tak menguntungkan secara ekonomi. kemudian pada Once We Were Us (2025), tekanan ekonomi akibat Eun Hoo terus menerus gagal menjadi Gaming programmer membuat Jeong Won akhirnya meninggalkan hubungan mereka. Sejak awal, Jeong Won sebenarnya tak terlalu peduli pada kegagalan, tetapi ketidakmampuan secara ekonomi menyebabkan sikap Eun Hoo berubah total.

Kisah serupa muncul pada 18x2 Beyond Youthful Days (2024), andai Jimmy tak terlalu ambisius dalam mengejar mimpinya menjadi miliarder dan mengambil jeda sejenak atas nama cinta, mungkin Ami bisa menikmati sisa akhir hidupnya bersama orang yang ia cintai. Barangkali Jimmy juga tak perlu kehilangan cinta sejatinya akibat bayang-bayang kesuksesan ala kapitalisme.

Melalui La La Land (2016) kita terkadang juga perlu belajar menjadi individu yang saling memahami, bahwa pasangan kita juga manusia yang sama-sama tidak sempurna. Awalnya, Sebastian dan Mia beranggapan bahwa kegagalan hubungan mereka, terjadi akibat latar belakang ekonomi mereka yang tidak beruntung, tetapi ternyata permasalahan yang mereka hadapi lebih dari sekedar itu. Hubungan mereka berakhir akibat ketidakmampuan memahami pasangan. Obsesi akan kemapanan menghilangkan kemampuan mereka untuk mencintai satu sama lain. 

Dalam konteks lokal, kisah pertarungan cinta dengan kapitalisme juga terjadi pada karya lokal, seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013) yang terinspirasi dari novel Buya Hamka dengan judul serupa. Hayati memilih hidup mapan dengan Aziz, daripada hidup dengan Zainuddin sebagai pasangan yang jujur dan penuh kesederhanaan. Tekanan sosial dan rayuan hidup nyaman ala kapitalisme telah menggoyahkan tekad cinta Hayati. Pada akhirnya, Zainuddin juga masuk dalam paradoks yang sama. Ia menjadi budak korporat demi membalas sakit hatinya atas cinta, kemudian berakhir pada penyesalan tak berujung. Kapitalisme membuat kisah cinta mereka berakhir tragis. 

Melalui karya-karya visual ini, masalah percintaan akibat intervensi kapitalisme telah menjadi kekhawatiran global. Hal ini diperparah dengan narasi Act of Service yang diartikan secara salah kaprah, juga turut melanggengkan logika kapitalisme melalui platform populis seperti Tiktok dan X. lah kok iso? Mari kita bedah.

Act of service merupakan salah satu dari lima bahasa cinta yang diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman, dalam karyanya yang berjudul The 5 Love Languages: The Secret to Love That Lasts (1992). Konsep ini sejatinya bertujuan untuk mempermudah pasangan melalui inisiatif dalam aksi. Tetapi dalam prakteknya, konsep ini turut melanggengkan logika pasar dalam hubungan yang sedang dijalani. Misal, dalam FYP (For Your Page) konten Tiktok pada akun @0nadhifbasalamah, yang menggunakan embel-embel “POV: Lagi marah, tapi cowok lo effort dateng buat minta maaf dan bawain bunga,” dan beberapa tweet pengguna X dibawah.





Sebenarnya bukti-bukti di atas mencoba menjelaskan bahwa pasangan dan Act of Service nya berubah jadi semacam social capital (nilai atau manfaat produktif), untuk dipamerkan demi mendapat tanggapan berupa validasi dari orang lain, seperti likes dan comments dalam platform. Romantisme yang terjadi antar pasangan bukan lagi ruang privat intim, tapi menjadi arena pertunjukan yang diperjualbelikan.

Oleh karena itu, Act of Service berubah menjadi alat transaksional dalam hubungan, bunga yang diberikan bukan lagi sebagai ungkapan cinta, tetapi berubah menjadi alat tukar. Konten menjadi kewajiban yang harus dilakukan setiap saat. Jika ini tidak dilakukan, muncul kecemasan seperti berkurangnya jumlah followers, konten yang tidak muncul pada FYP, hingga yang paling menakutkan yakni menurunnya gairah akan cinta.

Hal ini menjelaskan konsep dari Erich Fromm mengenai cinta dalam karyanya berjudul The Art Of Loving (1956), bahwa kita sekarang hidup di era "Personality Market." Menurutnya, kita melihat diri kita sendiri dan pasangan sebagai komoditas atau barang dagangan. Anggapan soal cinta adalah menemukan orang yang tepat, bukan membangun kapasitas untuk mencintai dengan benar.

Padahal menurut Fromm, masalah utama yang muncul bukan di objek cinta, bukan pada bunga ataupun barang sejenis yang diberikan dalam konten, tetapi pada bagaimana kemampuan kita untuk mencintai pasangan. Logika pasar membuat kita terobsesi mencari pasangan ideal seperti yang ditawarkan pada konten FYP Tiktok, alih-alih belajar jadi manusia yang mampu mencintai dengan tulus.

Sebagai manusia yang haus akan cinta, mari kita refleksikan kembali tentang bagaimana andil kapitalisme dalam mempengaruhi hubungan. Konsensus dalam cinta seharusnya diambil dari hasil berdialektika antar dua individu yang benar-benar sadar akan pentingnya cinta, bahkan dalam upaya menghadapi tekanan kapitalisme yang mencoba masuk dalam ruang privat. Alih-alih membeli bunga, bagaimana jika kita tanam bunga itu bersama? Dengan begitu, keindahan yang kita nikmati tidak berasal dari produk hasil monopoli pasar dan keringat buruh-buruh perkebunan yang dibayar asal-asalan.  


Iqbal Fauzi

Editor: Marsya Adzra Tsabita

Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar