Feminisme & Teologi Kristen: Sebuah Upaya Pemetaan Diskursus

author photo Jumat, Oktober 23, 2020

Illustrasi: Rachmad Ganta Semendawai


Ada beberapa pertanyaan besar dalam teologi Kristen selama ribuan tahun: Dari mana diskursus teologis berangkat? Penelusuran akan problem problem ilahi atau problem kemanusiaan?


Dari teologi abad pertengahan sampai teologi modern, wacana yang mendominasi ruang teologi Kristen adalah wacana keilahian. Titik tolak berteologi ini berubah kemudian hari, semenjak era teologi kontemporer atau banyak juga sarjana yang menyebut era teologi post-modern.


Filsafat Immanuel Kant sampai Nietzsche membawa sebuah fondasi awal terhadap perkembangan teologi kontemporer. Meski kemudian hari, filsuf-filsuf post-modernis, seperti Michael Foucault, Roland Barthes, sampai Derrida, memberi pengaruh besar kepada teologi kontemporer.

 

Salah satu teolog yang membawa pengaruh diskursus besar bagi teologi Kristen kontemporer adalah Jurgen Moltmann. Moltmann menamakan teologi kontemporer sebagai teologi eksperimental atau teologi dialogis.

 

Ia memaknai teologi sebagai sebuah upaya keterbukaan kepada dunia. Keterbukaan ini adalah sebagai upaya teologis untuk mengikatkan diri kepada perjuangan dalam menegakkan kebenaran dan pembebasan dari penindasan.

 

Corak berteologi di era kontemporer bukan lagi seperti era modern atau abad pertengahan, tak ada yang memisahkan realitas sosial dengan kehidupan spiritual. Sehingga teologi tidak lagi didominasi oleh wacana-wacana keilahian semata.

 

Teologi Kristen era kontemporer secara radikal, mengangkat problem-problem kemanusiaan sebagai titik tolak berteologi. Konteks inilah yang menjadi titik utama dalam merefleksikan feminisme dan teologi Kristen.

 

Filsafat Feminisme dan Teologi Kontemporer. 

Dialog antara filsafat dan kekristenan bukan hal yang asing. Sebagaimana filsafat Aristoteles mempengaruhi konstruksi teologi Aquinas, filsafat Immanuel Kant mempengaruhi teologi Karl Barth, filsuf-filsuf mazhab Frankfurt mempengaruhi Jurgen Moltmann. Begitu juga filsafat feminisme mempengaruhi teologi kontemporer.

 

Feminisme sebagai sebuah konstruksi wacana muncul semenjak abad 18 sampai 19, terdapat beberapa pemikir besar feminisme seperti Mary Wollstonecraft dan Elizabeth Cady Stanton, sampai Emma Goldman. Para sarjana menamakan era ini sebagai feminisme gelombang pertama.

 

Era ini berakhir ditandai dengan munculnya Simon de Beauvoir, seorang filsuf feminisme eksistensialis. Ia membuat karya penting yang berjudul The Second Sex dan dipublikasikan tahun 1949. Karya ini sangat mempengaruhi diskursus filsafat feminisme di kemudian hari, terutama berkaitan dengan kedudukan inferior dan status eksistensial perempuan.

 

Pengaruh dan perkembangan wacana ini akhirnya berimbas kepada kajian sejarah, kajian sastra, hingga kajian teologi. Kajian teologi yang dipengaruhi feminisme kemudian hari disebut sebagai teologi feminis. Elizabeth Cady Stanton menggagas Women's Bible pada 1895, yaitu sebuah komentar terhadap Alkitab (bible) dalam kacamata feminisme.

 

Dalam tradisi tafsir Alkitab terdapat istilah komentar “biblikal” (bible commentary). Salah satu contoh komentar biblikal yang terkenal adalah Matthew Henry's Commentary on The Whole Bible. Apa yang dilakukan Elizabeth Cady Stanton adalah komentar biblikal. Dari kitab Kejadian sampai Wahyu, ia memberi tafsir, telaah, dan rekonstruksi kontekstual kepada ayat - ayat Alkitab dari perspektif perempuan.

 

Stanton melakukan penulisan Women's Bible bersama dua puluh enam ahli tafsir, ahli bahasa Yunani dan Ibrani, dan para teolog perempuan. Proyek ini menandai sebuah permulaan wacana feminisme dalam teologi Kristen.

 

Para teolog-feminis selanjutnya semakin banyak ditemukan dalam era kontemporer. Pijakan intelektual yang terdapat pada teologi modern membuat wacana teologi feminis berkembang lebih jauh. Tahun 1968, Mary Daly, seorang teolog feminis, membuat sebuah karya berjudul The Church and The Second Sex.

 

Karya ini berangkat dari gagasan Simon de Beauvoir tentang second sex dan wacana inferioritas perempuan. Daly mengembangkan gagasan de Beauvoir untuk melihat konstruksi teologis kekristenan tentang perempuan, kedudukan perempuan dalam gereja, sampai pengaruh konstruksi patriarkis Yudaisme bagi kekristenan. Mary Daly, Radford Ruether, sampai Elizabeth Fiorenza adalah nama nama teolog feminis yang sangat berpengaruh dalam teologi kontemporer, terutama di era 1960 sampai 1980-an.

 

Selanjutnya terjadi pertemuan wacana yang semakin kompleks antara teologi feminis, teori gender, filsafat pos-strukturalisme, dan pos-modernisme. Filsuf seperti Michael Foucault dan Judith Butler dengan wacana teori gender dan homoseksualitas membawa pengaruh besar bagi teologi feminis.

 

Era ini dimulai dengan kemunculan teolog feminis dan teolog queer, seperti Marcella Altahuis-Reid, Margaret Kamitsuka, sampai Patrick Cheng. Para teolog ini mengembangkan apa yang dimulai sejak akhir abad 19 dan awal abad 20. Era ini dipenuhi keterbukaan dialog teologis tentang homoseksualitas, diversifikasi gender, sampai pembebasan perempuan. Mengenai perkembangan kajian teologi feminis dan isu gender secara post-strukturalis akan penulis bahas dalam tulisan lain.

 

***

 

Dari telaah sederhana tentang perkembangan feminisme dan irisannya dengan teologi Kristen, kita bisa melihat bahwa membicarakan teologi tidak pernah sederhana. Membicarakan agama, membicarakan Tuhan, membicarakan moralitas, membicarakan nilai dan norma teologis tidak pernah sederhana dan hitam putih.

 

Dalam konteks ini kita melihat sisi logos dalam teologi, bahwa pada akhirnya teologi pun adalah sebuah kajian yang penuh sistematika dan struktur. Pertemuan antara wacana filsafat, kenyataan sosial, dan problematik ilahi, adalah hal yang penuh dialektika. Untuk itu diperlukan dialog teologis seperti gagasan Moltmann, agar terjadi sebuah jembatan pemahaman dari berbagai dimensi.

 

Upaya penelusuran historis dan filosofis yang penulis susun ini hanyalah sebuah proyek pemetaan diskursus. Dengan menelaah peta sederhana ini, kita hanyalah seorang penjelajah kecil dalam hutan belantara teologi dan filsafat. Sehingga, menurut penulis, tak ada lagi alasan bagi para akademisi, khususnya mahasiswa, untuk lebih dahulu berprasangka kepada feminisme dan kajian gender. Lebih ironis lagi, jika prasangka itu dibangun sebelum menjelajah hutan belantara diskursus.

 

Dari Moltmann sampai Patrick Cheng, dari Kant sampai Foucault, dari Elizabeth Cady Stanton sampai Mary Daly, kita bisa melihat bahwa pemahaman akan Tuhan melalui teologi adalah sebuah upaya penjelajahan iman.

 

Iman tak sesederhana rasa percaya saja, menurut Thomas Aquinas, proses iman adalah cum assensione sentire. Artinya, proses beriman adalah proses berpikir sambil menyetujui. Maka, iman tak statis, tidak menutup mata dan telinga. Iman selalu membuka diri pada penjelajahan, pada realitas sosial - politik, pada skeptisisme, pada sains dan teknologi.

 

Sampai pada akhirnya timbul beberapa pertanyaan: Apakah kita punya cukup keberanian untuk menjalani petualangan diskursus ini? Atau kita sudah merasa aman dengan bersembunyi dalam tembok kemapanan beragama?

 

Sembari menghindari realitas sosial, sembari menghakimi mana "yang benar" dan "yang salah" dengan kacamata kuda. Sembari menutup telinga dialog teologis, lalu, berprasangka tanpa lebih dulu menjelajahi hutan belantara yang penuh realitas, penuh pergulatan dialektis, penuh peperangan das Sein - das Sollen.


Amos

Editor: Rachmad Ganta Semendawai

*Tulisan ini dipersembahkan untuk diskusi "Ada Apa Dengan Feminisme dan Agama?"

Refrensi

This post have 0 komentar


:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post