Merak di Negeri Garuda

author photo Rabu, Februari 17, 2021

 

Illustrasi: Sasageyo

angin puyuh merambah ke hutan

bertiup di atas angin permukaan sungai-sungai dan lautan

untaian mozaik pulau-pulau, bak penggalan surga

bukit-bukit dan gunung perawan basah

 

bentangan sayapmu mampu menggapai Tanjung Pura, bahkan Selat Malaka

kepaknya, terbang bebas mengarungi hamparan samudera dan benua-benua

cengkraman cakarmu menjaga kesuburan tanah

kokok paruhmu mampu merenggut nyali para serigala

 

berbagai peradaban kau telan

berbagai keyakinan kau satukan

perisai di dadamu menopang badai penjajah

tegap tubuhmu percaya dalam kemandirian

 

sudah berabad tahun yang silam

dan kini hanya sekedar lambang

sedangkan aku, hanyalah seekor merak picisan

yang dibesarkan dari makanan-makanan instan

 

terbangku terbatas oleh besarnya sangkar

sangkar emas yang dikerudungi selimut merah muda

sedangkan merah dan putih, tak lagi bermakna

enggan berkibar, terhimpit benali di tiangnya

 

aku diajari hinggap menjauhi sarangku

aku dimabukan oleh minuman-minuman suplemen

hamparan tanah yang menjadi pijakanku

kini tertutup guguran daun-daun kertas dan bangunan mallpolitan

 

hari-hariku disibukan untuk memanjakan buluku di ruang kelas dan bangku

menjadi komoditas yang marketable bagi tuanku

hati spiritualku dihanyutkan oleh ibadah yang tak lagi disembunyikan

untuk semakin menjauhi adat ketimuran

kalau hutan belantara rumahku

dan merah sepertiku menjadi rakyatnya

lalu siapa tuanku

aku melayani atau aku dilayani

aku menguasai atau dikuasai

aku mencoba keluar dari hutan

untuk menengok di sepanjang perempatan jalan

di terminal, di penggusuran tempat pelacuran

di bawah kolong jembatan layang

di pasar-pasar tradisional yang terbakar

dan di tepi persawahan

 

anak garuda ada di sana

tatapan matanya penuh keraguan

mereka mulai tak yakin dengan kebesaran nenek moyangnya

karena bapak-ibunya kini justru menjadi joki, yang menjual kehebatannya

anak garuda kini mencoba belajar dengan alam

karena pendidikan tak lagi ramah dengan kemiskinan

yang kaya dapat membeli karbit, untuk gelar doktor

yang miskin tak akan bergelar walaupun pintar

reformasi, revolusi mental, dan kemerdekaan

pohon beringin dikeping-keping, untuk membayar hutang

siapa yang konsisten mengisi sejarah

yang satu kapan lahirnya, yang satunya sudah berguguran di medan laga

 

aku mulai resah

lalu, akan ke mana paruhku kuteriakan

kepada awan, awan menamparku

kepada gunung, gunung meninjuku

kepada laut, laut meludahiku

akhirnya aku terjungkal

terjerembab di tanah Wengker

sayapku terjerat di alang-alang hutan yang angker

dayaku membeku di sarang angin

kutumpuk napsuku di sela-sela Gunung Wilis dan Lawu

kutunggu sampai Tuhanku meridai

kalau para penguasa tidak mau bersuara

terpaksa aku bertengger di atas kepalanya

 

Natasya Octavia Haryuningtyas


*Catatan: Puisi ini pertama kali dibacakan oleh penulisnya pada acara Diskusi Philosofis Jilid #2: Peran Sastra dalam Jurnalisme Jumat, 20 November 2020.

 



This post have 0 komentar


:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post