XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Arang Hitam dan Puisi Lainnya

Ilustrasi: Farras Pradana













Arang Hitam

 

Ribuan lembayung menangis kala itu

Pilu datang membawa guncangan

Terik matahari malu bersimpuh

Karena hujan tak berani menderas

 

Arang sejati menjadi pusaka

Menjernihkan air yang hitam membiru

Siluet malam datang membayang

Arang sejati mendengkur meratap

 

Berlian hati bertanya mengapa

Arang diam tak pernah menjawab

Susunan cakra bersinar kala itu

Menghormati alam yang diam membisu

 

Lembaran putih sengaja tercabik

Arang hitam tersenyum gembira

Menyisakan asap putih di atas horizon

Dan arang sejati kembali sepi

 

 


Rintihan Suara Merpati

 

Pagi terbang

Siang menjulang

Malam melayang

Egomu nian usang

 

      Pagi kau segar

      Siang kau tegar

      Malam kau nanar

      Suaramu tak terdengar

 

Merpati, oh merpati

Nasihat apa sultan memberi

Tak disangka hilang pergi

Walau hanya seuntil padi

 

      Pagi terbang

      Siang menjulang

      Kabar tak datang

      Merpati kau hilang

 

Merpati, oh merpati

Gawai coba menghajar

Bagaimana nasihat kau terapi?

Jika suaramu tak terdengar

 



Manifes Demokrasi


Hujan diminta tak tentu datang

Pohon-pohon aren banyak ditumbang

Walau teriakan membara-bara

Tak sedikit pun jiwa-jiwa terpana

 

      Demokrasi

      Bicara sana sini tak ada hasil

      Manifes-manifes oligarki datang dinanti

      Buyarkan aksi si demokrasi

 

Di negeri ini, semua terjadi

Tak ada sawah padi pun jadi

Tak usah pergi mencari hati

Karena bisa jadi sampingmu pergi

 

      Demokrasi

      Sudah lama menjadi saksi

      Di tengah buyaran halusinasi

      Benar dan salah menjadi misteri

 


 

Amanah Guru


Suara klakson tak pernah membuat berhenti

Manisnya jingga tak cukup diberi untaian puisi

Kelakar alam tak patut dijadikan skeptis

Anti minimalis membuang waktu dengan sang kapitalis


Manuskrip cerita tak butuh halusinasi

Ujian hidup tak patut diarti

Kesalahan raga memang tak berarti

Karena di sini insan diuji

 

Walau palang membayangi arti

Insan pun tak berani menanti

Namun kalam tak sudi dinanti

Hingga insan cukup mengerti


Sedang ruangan penuh gejolak

Menanda pergi seorang anak

Banyak kamus berjarak-jarak

Sampai insan diberi kehendak

 


 

Klaten-Purwokerto

 

Klaten-Purwokerto

Berjajar kota dan kabupaten terhampar

Deretan gunung-gunung pun tertancap di bumi pertiwi

Ratusan kilometer sukmaku terhalang oleh jarak

Wahai juitaku, apakah engkau mendengar gemercik rinduku?


Klaten-Purwokerto

Hari demi hari berganti

Tahun demi tahun tahun berlalu

Arloji pun terus berpacu bagaikan roda gila

Sungguh, ku tak tahan menahan hasrat tuk jumpa padamu

           

Klaten-Purwokerto

Wahai bunga hatiku dikau harus tau

Disaat sembahyang selalu ku selipkan namamu

Disaat ku melukis selalu tergores tinta indah akan wajahmu

Disaat ku menulis selalu teruntai kata nan cantik seperti sosokmu 


Oh Tuhan ....

Kapan kau berikan secercah asa untukku?

Untuk menjumpai bunga hatiku nan jauh di mata

Untuk menikmati secangkir kopi pahit yang berbuah manis bersamanya

Untuk menyampaikan letupan rinduku yang sudah tak terbendung dasar kalbu

 

Klaten-Purwokerto

Ku hanya terus bersabar menatap langit bumi pertiwi

Mengharapkan pada sang khalik untuk memohon pada-Nya

Oh, juita bunga hatiku, dengarkah engkau tentang jeritan rinduku?

Jeritan yang terus berdendang bagaikan alunan lagu

Lagu-lagu bernada tinggi itulah rasa rinduku padamu


Wahai juitaku, bersabarlah menungguku

Tuhan sudah menggariskan waktu kita pasti bertemu

Tenanglah berada di kota nan jauh itu

Aku berhasrat tinggi menjemputmu pulang

Menuju ikatan kain putih dan suci yang diridai ilahi



Akmal Firmansyah

Editor: Ananda Poetri Habibah dan Megi Suhartini


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar