XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Lelaki Dalam Dilema Penindasan Patriarki


Ilustrasi: Irvan Bukhori

Judul                 : Good Boys Doing Feminism: Maskulinitas dan Masa Depan Laki-laki Baru

Penulis             : Nur Hasyim

Penerbit           : EA Books

Halaman          : xvi + 160

Tahun Terbit   : 2021

ISBN               : 978-623-94979-1-0

 

Apakah kalian pernah dituduh berperilaku seperti wanita hanya karena posisi duduk di kursi dengan kaki yang menyilang?

Atau kalian juga pernah mendapat pertanyaan “laki-laki kok ga bisa main bola?”

Dulu aku sempat berpikir bahwa pertanyaan di atas merupakan hal yang lazim untuk ditanyakan oleh siapa pun, tanpa ada maksud apa pun. Tetapi ternyata aku salah. Pertanyaan seperti di atas merupakan contoh pertanyaan yang memiliki tendensi patriarki yang mengandung proses internalisasi dalam otak tiap individu terkait suatu hal yang identik dengan jenis kelamin tertentu. Hal ini dibuktikan dengan adanya stigma bahwa laki-laki harus bisa main bola, seolah-olah terdapat tolok ukur untuk menjadi laki-laki melalui bisa tidaknya bermain bola.

Proses pergulatan pikiran tentang stigma ataupun stereotipe bagaimana agar menjadi seorang “laki-laki” yang ideal sesuai dengan imajinasi masyarakat. Kita bisa melihatnya dalam buku Good Boys Doing Feminism oleh Nur Hasyim. Dalam buku ini, penulis dengan tegas memberitahu kepada kita bahwa patriarki tak hanya merugikan perempuan, tetapi juga dapat menyasar laki-laki.

Biasanya, ketika kita mendatangi sebuah forum diskusi patriarki, di dalam ataupun di luar kelas, seringkali terdengar suara keras nan lantang dari berbagai kalangan perempuan sebagai manusia yang ditindas laki-laki. Lain halnya ketika membaca buku ini. Kita akan dihadapkan dengan persoalan yang cukup berbeda. Kita akan melihat kondisi di mana patriarki yang mayoritas dilakukan oleh pihak laki-laki juga dapat mencederai laki-laki lain.

Laki-laki juga dapat menjadi korban dari sistem sosial yang patriarkal. Terbukti dengan adanya penindasan yang dilakukan oleh sesama laki-laki. Penindasan tersebut dapat berupa cacian akibat tidak memenuhi kriteria lelaki yang ideal, seperti harus gagah, tegas, tidak mudah menangis, menyelesaikan masalah tanpa berkelahi dan masih banyak yang lainnya.

Paradigma seperti ini amat merugikan laki-laki. Pasalnya mereka tidak bisa menjadi sosok laki-laki yang “berbeda”. Misalnya dalam hal menunjukkan sisi emosional mereka. Bisa saja ketika laki-laki sedang menonton Drama Korea lalu mereka menangis dan ketahuan oleh teman lelakinya, ia dianggap alay, lemah, letoy, slay, dan lain-lain. Klaim secara personal maupun sosial inilah yang bisa memunculkan sebuah konsep yang bernama Maskulinitas Hegemonik oleh Raewyn Connel, seorang sosiolog asal Australia.

Maskulinitas Hegemonik merupakan sebuah kondisi di mana terdapat hierarki yang diciptakan oleh laki-laki yang mengikuti arus atau “ideal”. Mereka beranggapan bahwa seharusnya laki-laki seperti ini dan itu. Merekalah aktor utama dari adanya penindasan yang terjadi pada laki-laki yang dianggap “tidak ideal”. Secara tidak langsung, terdapat hierarki dalam laki-laki. Laki-laki yang ideal berada di atas. Sementara untuk laki-laki yang berbeda (mencoba untuk tidak tunduk pada konstruksi masyarakat terkait maskulinitas) akan berada di bawah atau bisa disebut dengan Maskulinitas Subordinat.

Kehadiran Maskulinitas Hegemonik memaksa laki-laki untuk bertindak, berperilaku dan berpenampilan yang “ideal”. Konstruksi ini tentu tidak terjadi secara instan. Ia bermula dari proses yang panjang  bak pola asuh orang tua terhadap anak, yang berlanjut pada pola sosialisasi dengan teman sebaya, hingga membentuk kebiasaan yang harus diikuti dalam masyarakat.

Berkat proses seperti inilah kosntruksi tersebut dapat mengakar kuat dalam pola pikir masyarakat. Tidak cukup sampai situ, kita juga diajak menyelami proses terbentuknya “laki-laki ideal”. Sebuah konsep di mana laki-laki digambarkan sebagai sosok gagah perkasa. Di mana salah satunya laki-laki cengeng seolah tidak memiliki tempat di masyarakat. Air mata ibarat air najis yang tidak boleh dikeluarkan dari pelupuk mata laki-laki sejati. Sejarah telah membuktikan laki-laki perkasa tanpa celah yang menjadi sosok ideal dari dulu.

Di sisi lain, maskulinitas terkutuk seolah membuktikan laki-laki sejati ialah mereka yang menyelesaikan masalah dengan perkelahian. Hal seperti inilah yang patut kita hindari, agar lelaki dapat tumbuh menjadi pribadi yang gandrung akan kesetaraan, bukan menjelma sebagai sosok monster yang suka akan penindasan.

Tak hanya berkutat dalam lingkup pertemanan, lebih dari itu, perkelahian merambah dalam tampuk kekuasaan. Ester Lianawati menjelaskan lebih lanjut dalam bukunya yang berjudul Akhir Pejantanan Dunia mengenai penindasan patriarki terhadap lelaki.

Selanjutnya, Nur Hasyim mengajak para pembaca terutama laki-laki untuk mencoba keluar dari kungkungan patriarki. Patut diakui bahwa di bawah sistem yang patriarkis ini, laki-laki jauh diuntungkan ketimbang perempuan seperti dalam hal upah. Salah satu upaya untuk keluar dari kubangan sistem patriarkis ialah dengan menelanjangi konsep maskulinatas yang sudah mapan dalam masyarakat.

Kita harus mencoba untuk mempertanyakan ulang: apa sih yang diuntungkan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat? perempuan kok jarang dibolehin keluar rumah? apakah ini bentuk ketidakadilan atau malah sebuah kelaziman? Pertanyaan tersebut mengantarkan kita pada penemuan berbagai privilese yang melakat dalam tubuh laki-laki, sehingga dalam proses belajar ia dapat melatih empati terhadap larangan-larangan yang telah disematkan masyarakat terhadap perempuan.

Selain itu, penulis juga mengajak kita untuk berkenalan dengan berbagai aliansi atau jaringan laki-laki yang pro terhadap gerakan kesetaraan, dalam lingkup regional maupun global. Aliansi Cowok-Cowok Anti Kekerasan (CANTIK) misalnya,  muncul pada tahun 2000 di Jakarta. Nur Hasyim mengajak pembaca agar tidak hanya berhenti dalam proses membaca, tetapi juga mengimplementasikan pengetahuan tersebut kepada diri sendiri dan turut bergabung dalam aliansi pro gerakan perempuan.

Sampai saat ini, saya masih percaya pada perkataan salah satu tokoh feminis, Simone de Beauvior bahwa secara biologis memang laki-laki, tetapi sampai pada sifat, sikap, perilaku, pola pikir merupakan buah dari konstruksi masyarakat yang menyebabkan munculnya tekanan bila menjadi laki-laki yang berbeda.


Irvan Bukhori
Editor: Aisya Puja Ray

Related Posts

Related Posts

1 komentar