XMsD68HnejBXABBaSiR3nl4DhiBV28OkDfbqDe4F

Pemilwa Fishipol 2023: Minim Wacana, “Berahi Kekuasaan”

Ilustrasi: Adam Yogatama

Berbagai pertanyaan terus menggeliat di pikiran saya, terutama kala pesan Whatsapp berisi ajakan untuk menjadi timses muncul di gawai. Menjelang perhelatan pemilwa tahun ini, para paslon berlomba-lomba memperbanyak simpatisan mereka. Selain itu, banyak bermunculan akun anonim, buzzer, poster, dan banner yang nongol di ruang-ruang kampus. Dari fenomena tersebut, muncul suatu pertanyaan: sebenarnya kepentingan apa yang membuat paslon mengajukan diri?

Pagi itu, sebelum masuk kelas, saya lihat dua poster terpampang di Jendela sekretariat BEM Fishipol, satu poster bertuliskan “estafet Satria-Natasya jatuh di tangan siapa?” sedang satu lagi berisi tulisan “siapa calonnya? Netral, atau ditunggangi ormek?”.

Postingan serupa juga mencuat di akun buzzer war.fish yang berisi satir terhadap salah paslon yang hendak maju. Narasi-narasi tersebut seolah menyiratkan bahwa: alih-alih menghadirkan pemilwa dengan wacana konkret yang ditawarkan, tahun ini hanya jadi ajang perebutan kekuasaan antara kelompok anti-ormek melawan ormek. 

Dari fenomena tersebut, menunjukkan bahwa saat ini banyak gerakan anti Ormek menjalar di Fishipol. Kemudian saya coba menebak, kira-kira apa yang membuat gerakan ini bermunculan?

Untuk memberi gambaran, mari kita membaca tulisan yang terbit di Ekspresionline.id bertajuk “Jalan Mulus KAMMI Memenangkan Politik Kampus”, yang menunjukkan dominasi dari salah satu Ormek, yakni KAMMI, membuat kejenuhan politik kampus. Berangkat dari kejenuhan tersebut, Ormek lain mencoba menandingi, seperti HMI-MPO, PMII, dan GMNI. Kemudian, politik kampus hanya dijejali oleh agenda masing-masing Ormek. Sehingga memunculkan perlawanan anti-ormek politik kampus.

Kemunculan gerakan anti-ormek dimaksudkan untuk mencegah dominasi ormek dalam politik kampus. Namun, jika saat ini narasi anti-ormek sebatas alat kepentingan nyari suara semata, maka itu hanya bualan manis yang kehilangan substansinya. Ujung-ujungnya pemilwa yang seperti ini, hanya berisi pertentangan identitas belaka, tanpa ada wacana yang memperjuangkan keresahan banyak mahasiswa.

Terlepas dari permasalahan ormek vs anti-ormek, ada yang lebih penting dalam pemilwa kali ini—yakni wacana dan menjadikan BEM lebih relevan. Pemilwa seharusnya menjadi arena adu gagasan. Dapat menyuarakan segudang masalah yang menjadi teror bagi banyak mahasiswa.

Isu kenaikan UKT, maraknya kekerasan seksual, serta represi terhadap kebebasan berpendapat, terlihat tak lantang disuarakan. Hal ini jadi miris, ketika yang banyak muncul dalam pemilwa justru narasi berisi serangan terhadap lawan politik, tak mewakili siapapun. Lantas, untuk siapa pemilwa sesungguhnya?


Visi-Misi-Basi

Hampir tiap kali kontestasi politik dalam pemilwa, paslon akan berlomba-lomba menyajikan visi-misi semenarik mungkin. Sayang, hampir keseluruhan yang dibawakan belum banyak merepresentasikan kepentingan mahasiswa secara lebih luas. Visi misi yang diusung terkesan terlalu template.

kalimat yang disuguhkan selalu berkutat pada kreatif, inovatif, kolaboratif, dan responsif, yang selalu diulang hingga membuat saya jenuh. Bahkan, “keyword” tersebut sudah banyak tercecer di berbagai situs di Google. Jika hanya itu-itu saja, maka siswa SMA pun bisa membuatnya. Maka sebenarnya apa yang mereka utarakan, tak ada kebaruan yang ditawarkan.

Kreatif dan inovatif hanya bualan semata. Sebab, bagaimana kreatifitas bisa terwujud, jika banyak dari mahasiswa hari ini disibukkan dengan permasalahan biaya kuliah yang kian mahal. Toh, mau sekreatif apapun suatu pikiran, jika tak ada jaminan atas kebebasan berekspresi, pada akhirnya hanya akan dibungkam oleh kepentingan birokrat kampus dan berhenti jadi angan-angan saja.

Pertanyaan demi pertanyan terus bermunculan ketika melihat visi-misi mereka. Pertanyaan tersebut berkutat pada; apakah visi-misi yang sudah usang ini adalah jawaban atas permasalahan yang sedang dihadapi mahasiswa? Bagaimana dengan kenaikan biaya kuliah yang kian hari kian banyak membunuh impian teman-teman kita? Apakah visi misi para paslon menawarkan penyelesaian atas kasus kekerasan seksual yang banyak terlupakan? sudahkah visi misi yang disuguhkan, jadi jaminan terhadap kebebasan akademik yang kondisinya makin memprihatinkan?

Ketika melihat visi misi yang diusung, menyimpulkan bahwa, sebenarnya mereka tidak memberi jawaban alternatif terhadap permasalahan-permasalahan di atas. Padahal, tujuan dari visi misi yang dirumuskan, semestinya melalui serangkaian riset dan kajian terlebih dahulu. Sebab, ketika merumuskan hal tersebut, setidaknya mereka mengetahui permasalahan dan membawa visi yang jelas. Bukan ujug-ujug kreativitas mulu yang diajukan. Sepertinya di otak mereka hanya ada satu pola pikir, yakni pragmatis. Hal ini bisa dilihat ketika maju menjadi paslon. Tujuan pragmatis itu terasa sangat kental, yaitu hanya untuk menduduki kursi birokrasi BEM.

Untuk ukuran saat ini, jika boleh dikata, sebenarnya BEM itu sudah terlampau tidak relevan. Atau setidaknya banyak yang mempertanyakan relevansinya. Duh, sudah di posisi yang kian hari dipertanyakan relevansinya, ditambah pemilihan kali ini minim wacana. Jangan-jangan, apa yang mereka lakukan—paslon—justru membuat BEM semakin terpuruk. 


Relevansi BEM dan keterwakilan suara mahasiswa

Setelah serangkaian kampanye, debat, hingga muncul satu paslon terpilih, selanjutnya apa? Benarkah suara yang kita sumbangkan kepada para paslon selama pemilwa, akan disuarakan kembali sebagai kepentingan bersama? Paling-paling, apa yang diwacanakan berakhir teknis. Eits, jangan kaget atau heran, sebab apa yang terjadi akan seperti yang lalu-lalu—BEM hanya sebuah infrastruktur tanpa suprastruktur di dalamnya. Alias kosong.

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan ini, sebenarnya memang keberadaan BEM tak lagi relevan. Sebab, hal ini bukan muncul dari bualan semata. Analisis yang dibuat oleh Alfath Bagus dan Georgius Benny menjelaskan itu semua.

Maka, artinya sudah jelas dan sudah pasti bahwa: kini BEM tidak relevan dan tida lagi efektif untuk berkata “menyuarakan isu mahasiswa, mewadahi mahasiswa, aspirasi mahasiswa, dan blablabla”. BEM bukan Badan Eksekutif Mahasiswa lagi, ia menjelma menjadi Badan Eksklusif Mahasiswa dengan segala birahi kekuasaan orang-orang yang ingin menjabat di dalamnya.

Dari pernyataan di atas, relevansi atas keberadaan BEM dapat dilihat dari keberpihakan wacana yang diangkat ketika pemilwa. Wacana yang diusung akan berpihak pada kepentingan banyak mahasiswa atau hanya jadi ajang bagi kelompok tertentu untuk berebut kuasa.

Sekali lagi, pemilwa bukan arena bagi kelompok ormek dan anti-ormek beradu kekuatan. Melainkan ajang pembuktian dari apa yang mereka suarakan selama ini, baik dari ormek atau anti ormek.

Justru menjadi sebuah pertanyaan ketika mereka—paslon—yang maju dengan embel-embel ormek dan anti-ormek, muncul dengan narasi mewadahi mahasiswa.

Maka, alih-alih membawa suatu narasi yang tidak tahu akar permasalahannya, dan visi-misi yang terlampau tidak relevan. Ditambah dengan pertentangan antara ormek vs anti-ormek seperti ormas. Alangkah mulianya ketika mereka—paslon—menyuarakan permasalahan yang ada dengan wacana yang jelas.

Toh, jika maju dalam pemilwa kali ini hanya untuk memenuhi hasrat “birahi kekuasaan”, agar dapat menduduki kursi birokrasi BEM, mereka—ormek dan anti-ormek—justru semakin membuat BEM tidak relevan lagi.

Pada akhir kata, teruntuk pemilwa kali ini, sebuah harapan besar muncul dalam benak saya, agar BEM yang tidak relevan kini menjadi relevan. Tentu dengan wacana yang jelas oleh paslon. Apabila hanya untuk memuaskan hasrat kekuasaan semata, bolehkah saya, barangkali kawan-kawan yang setuju dengan ini diam sejenak. Diam pada seribu kata yang menghimpun tidak percaya dan mengacungkan jari tengah di antara jargon dan omong kosong belaka.

Akhirussalam, saya tutup pesan cinta ini pada paslon dan mereka yang mengatasnamakan BEM sambil berkoar hanya tentang keberlanjutan kepemimpinan, serta mengatasnamakan mahasiswa sambil berkata “hidup mahasiswa/pergerakan/rakyat/blablabla”, dengan meminjam penggalan lirik Seringai:

“Omong Kosong//Omong Kosong//Omong Kosong”


Ainun Zeva

Editor: Dewa Saputra

Related Posts

Related Posts

3 komentar

  1. Omong Kosong Penulis. Berahi sok kritis. Dari dulu narasinya seperti ini tiap kali Pemilwa, tapi sama saja tidak menghadirkan kebaruan juga.

    BalasHapus